Berputar
Eksplorasi prosa eksperimental, sebuah catatan yang ditemukan kembali

Gelap yang tidak menyenangkan sampai silau menembus kelopak mata. Aku menangis pada cermin, saat sadar masih jauh di tengah nyawa. Selamat pagi, manusia dangkal. Selamat pagi, aku yang dangkal. Berperilakulah kepadaku, berperilakulah. Matahari gelap berputar-putar, membuat dunia ini semakin menarik. Tertawalah, aku yang menyedihkan. Tertawa hingga sesak menguap ke udara zaman. Wahai aku yang dangkal, hari ini sangatlah menyenangkan, kau tahu?! Manis yang jika dirasakan seksama adalah pahit pekat. Teriak. Gumam. Tertawa. Menangis. Loncatlah setinggi-tingginya hingga lupa letak kakimu saat jatuh ke tanah. Berlakulah semaumu, sebab dunia ini hanya sebatas pandang. Nikmati. Teriak. TERIIIIAAAAAKKKK! Tak seorang pun akan mengerti anugerahmu. Aku, parasit ini, menghisap darahmu sampai kau tak sadarkan diri. Kerasku membuatmu tak kembali. Aku yang keras ini tak ingin dikalahkan apapun, bertindak di luar nalarmu. Tertawalah. Maka akan kuhancurkan satu per satu tawa yang ada pada diriku. Wahai aku yang dangkal, selamat malam. Esok berputar.
Catatan Penulis: Ini adalah versi yang telah diedit dari tulisan yang pertama kali dibuat pada tahun 2011. Jika tulisan ini terasa gelap atau intens, itu memang tujuannya, untuk mengeksplorasi emosi dan pikiran yang sulit diungkapkan dalam percakapan sehari-hari. Ini adalah fiksi, sebuah eksperimen dengan kata-kata dan perasaan yang dituangkan dalam bentuk prosa eksperimental.

